Dalam setiap interaksi, baik personal, profesional, maupun medis, konsep persetujuan (consent) memegang peranan fundamental. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa itu persetujuan yang valid? Lebih dari sekadar “ya” atau “tidak,” persetujuan yang sah adalah elemen krusial yang memastikan setiap individu dihormati, didengarkan, dan memiliki kendali penuh atas tubuh, privasi, dan keputusaya. Artikel ini akan mengupas tuntas karakteristik persetujuan yang valid dan mengapa pemahaman ini sangat vital dalam membangun masyarakat yang adil dan berbudaya hormat.
Apa Itu Persetujuan (Consent)?
Secara sederhana, persetujuan adalah izin aktif, sukarela, dan jelas yang diberikan oleh seseorang untuk suatu tindakan atau aktivitas. Ini bukan asumsi, bukan paksaan, dan bukan keheningan. Persetujuan adalah komunikasi afirmatif yang menunjukkan keinginan dan kesiapan seseorang untuk berpartisipasi dalam sesuatu. Tanpa persetujuan, setiap tindakan yang melibatkan orang lain berpotensi menjadi pelanggaran hak dan otonomi.
Karakteristik Persetujuan yang Valid (FRIES)
Untuk memastikan persetujuan benar-benar valid dan sah, ada lima karakteristik utama yang harus terpenuhi. Konsep ini sering disingkat dengan akronim FRIES, yang mewakili:
1. F – Freely Given (Diberikan Secara Sukarela)
Persetujuan harus diberikan tanpa paksaan, ancaman, intimidasi, tekanan, atau manipulasi. Ini berarti tidak boleh ada hierarki kekuasaan yang dimanfaatkan untuk menekan seseorang agar setuju. Misalnya, seorang atasan tidak bisa memaksa bawahaya untuk setuju pada aktivitas di luar lingkup pekerjaan, atau seorang dokter tidak bisa mengintimidasi pasien untuk menyetujui prosedur medis yang tidak mereka inginkan. Keputusan harus datang dari kebebasan memilih individu tersebut.
2. R – Reversible (Bisa Ditarik Kembali Kapan Saja)
Persetujuan bukanlah perjanjian yang mengikat selamanya. Seseorang memiliki hak untuk menarik persetujuaya kapan pun, bahkan di tengah-tengah aktivitas. Ketika persetujuan ditarik, tindakan atau aktivitas harus segera dihentikan. Menarik persetujuan tidak memerlukan alasan, dan keputusan tersebut harus dihormati tanpa pertanyaan atau rasa bersalah. “Ya” yang diberikan sebelumnya tidak berarti “ya” untuk seterusnya.
3. I – Informed (Berdasarkan Informasi Penuh)
Agar persetujuan valid, seseorang harus sepenuhnya memahami apa yang mereka setujui. Ini mencakup mengetahui sifat tindakan, potensi risiko, konsekuensi, dan alternatif yang mungkin ada. Misalnya, dalam konteks medis, pasien harus diberitahu secara jelas tentang prosedur, efek samping, dan pilihan pengobatan laiya. Dalam konteks hubungan, seseorang harus tahu apa yang akan terjadi sebelum memberikan persetujuan. Informasi harus disampaikan dengan cara yang jelas dan mudah dipahami.
4. E – Enthusiastic (Penuh Antusiasme atau Jelas)
Persetujuan yang valid seringkali ditandai dengan antusiasme atau kejelasan. Ini bukan sekadar “tidak ada penolakan” atau “mungkin.” Persetujuan yang antusias berarti ada ekspresi yang jelas dan positif, baik secara verbal maupuon-verbal, yang menunjukkan keinginan untuk berpartisipasi. Keheningan, pasivitas, atau keraguan bukanlah persetujuan. Jika ada keraguan, jawaban yang benar adalah “tidak.”
5. S – Specific (Spesifik)
Persetujuan yang diberikan untuk satu tindakan atau aktivitas tidak secara otomatis berarti persetujuan untuk tindakan lain. Misalnya, menyetujui satu jenis interaksi fisik tidak berarti menyetujui semua jenis interaksi fisik. Begitu pula, persetujuan untuk berbagi data pribadi dengan satu pihak untuk tujuan tertentu tidak berarti persetujuan untuk membagikaya kepada semua pihak untuk semua tujuan. Setiap tindakan baru memerlukan persetujuan baru yang spesifik.
Mengapa Persetujuan Valid Sangat Penting?
Pemahaman dan praktik persetujuan yang valid adalah pilar utama dalam membangun masyarakat yang etis dan manusiawi:
- Menghormati Otonomi Individu: Ini menegaskan hak setiap orang untuk membuat keputusan tentang tubuh, privasi, dan kehidupaya sendiri.
- Mencegah Kekerasan dan Pelecehan: Ketika persetujuan diabaikan, tindakan tersebut dapat berujung pada pelecehan seksual, kekerasan, atau pelanggaran privasi.
- Membangun Hubungan yang Sehat dan Percaya: Dalam hubungan apa pun, baik romantis, persahabatan, atau profesional, persetujuan menciptakan fondasi rasa hormat, kepercayaan, dan komunikasi terbuka.
- Konsekuensi Hukum: Pelanggaran persetujuan, terutama dalam konteks tertentu seperti medis atau seksual, dapat memiliki konsekuensi hukum yang serius, termasuk tuntutan pidana atau perdata.
Membangun Budaya Persetujuan (Consent Culture)
Edukasi tentang persetujuan tidak hanya berhenti pada pemahaman individual, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun budaya di mana persetujuan adalah norma. Ini melibatkan:
- Komunikasi Terbuka: Mendorong percakapan yang jujur dan terus terang tentang batasan dan keinginan.
- Mendengarkan dan Menghormati: Mengajarkan pentingnya mendengarkan isyarat verbal daon-verbal, serta menghormati keputusan orang lain, bahkan jika itu berarti “tidak.”
- Mengajarkan Sejak Dini: Mengintegrasikan konsep batasan tubuh dan persetujuan sejak usia dini kepada anak-anak, agar mereka tumbuh menjadi individu yang menghargai dan dihormati.
Kesimpulan
Persetujuan yang valid adalah elemen esensial dari setiap interaksi yang sehat dan saling menghargai. Ini adalah izin yang diberikan secara sukarela, dapat ditarik kembali, berdasarkan informasi, antusias, dan spesifik. Dengan memahami dan mempraktikkan FRIES, kita tidak hanya melindungi hak-hak individu, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan masyarakat yang lebih adil, aman, dan penuh empati. Mari kita jadikan pemahaman persetujuan yang valid sebagai bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai kita sehari-hari.
